Berkibarlah Genderaku …….
Agustus 26th, 2009 by saifurrahman
Berkibarlah Genderaku
Lambang suci gagah perwira
di seluruh Pantai Indonesia ……
Lagu Berkibarlah Benderaku ciptaan Ibu Sud berubah menjadi Berkibarlah Genderaku, gendera dalam logat bahasa Banyumasan sepengetahuan saya pada waktu itu adalah sama saja dengan bendera.
Berkibarlah Genderaku, begitu pengucapan waktu itu setiap menyanyikan lagu ciptaan Ibu Sud memakai huruf G bukan B yang selalu dinyanyikan dengan berteriak bersama teman-teman semasa di TK sampai SD dahulu. Terlebih pada acara “Tujuhbelasan” atau acara “Agustusan” setiap tahun.

Satu-satunya kenangan saya semasa TK tahun 1972-1973 adalah sebuah foto hitam putih yang diambil pada saat pawai karnaval HUT RI yang ke 27. Alamak… sudah 37 tahun yang lalu. Tapi saya heran, meskipun pawai “tujuhbelasagustusan” kenapa pada waktu itu kami tidak membawa “Gendera” merah putih. Tidak seperti karnaval pada saat sekarang ini?
Tidak tahu dan tidak habis pikir, pasalnya ibu-ibu guru juga tidak menyuruh kami membawa bendera merah putih dari rumah. Atau apapun alasannya, yang jelas mungkin pada tahun itu di tempatku belum menjadikan musim untuk membawa bendera di arak-arak kesana kemari, apalagi oleh kami yang masih sekolah taman kanak-kanak. Tapi yang pasti biarlah “Gendera” kami berkibar di tiangnya, berada pada habitat aslinya. Andaikata pada waktu itu sudah muncul kata-kata “Garuda di Dadaku”, tentulah saat itu Merah Putih sudah berkibar di Jantungku… dan bukan sebuah judul film.
(sekarang baru saya tahu jawabnya… pada tahun itu untuk mendapatkan bendera merah putih para orang tua kami harus menjahit terlebih dahulu kain merah dan kain putih. Soalnya belum banyak yang menjual bendera di toko apalagi bendera yang terbuat dari plastik)
Kesemangatan masa kecilku terkadang muncul tatkala kubuka lembar demi lembar empat buah buku “30 Tahun Indonesia Medeka” yang merupakan catatan perjalanan bangsa Indonesia dari tahun 1945 sampai tahun 1975. Empat buku tercetak hitam putih yang merupakan salah satu peninggalan dari bapakku selain uang pensiunan guru yang masih diterima oleh ibuku.
Meskipun bapak bukan pejuang tapi karenanya seorang guru, bolehlah bapak menyandang gelar pahlawan tanpa tanda jasa. Meskipun tanpa tanda jasa bukan tanpa tanda sama sekali, sebab kebanggaan terbesar dalam hidupnya adalah ketika menerima Lencana Tanda Kehormatan Karya Satyalencana Kelas III tahun 1991 dari pemerintah atas pengabdiannya kepada negara selama lebih dari 25 tahun secara terus-menerus, dan piagamnya ditandatangi oleh Presiden Soeharto.

Piagam berikut lencana tersebut bukan satu-satunya peninggalan bapak, masih ada peninggalan yang selalu tersimpan di lemari dan hanya dikibarkan pada peringatan hari-hari bersejarah, sebuah bendara merah putih. Sudah pudar memang warna merahnya dan sudah lusuh pula warna putihnya. Tetapi bendera inilah yang selalu dikibarkan sepanjang lebih dari duapuluh tahun sampai sekarang ini. Meskipun pada akhir-akhir ini hanya diikatkan pada sebatang bambu lalu (maaf) dilekatkan nempel pada tembok dengan seutas tali rafia atau kawat. Jauh berbeda ketika bapak sendiri sewaktu mengibarkan bendera merah putih.

Kadang masih dapat saya bayangkan bagaimana bapak dahulu dengan semangatnya memancangkan bambu untuk tiang bendera di halaman rumah yang sebagian besar masih tanah. Bahkan untuk memasuki “agustusan” rumah selalu dilabur dengan kapur sirih, terutama muka rumah bagian depan dan dipasang gapura dari bambu di sisi kiri dan kanan halaman. Semangat bapak timbul karena mungkin pernah dilaluinya perang kemerdekaan di masa kecilnya. Barangkali jika boleh digambarkan semangatnya persis peristiwa perobekan warna biru pada bendera merah putih biru di Hotel Yamato Surabaya tahun 1945 silam.

Meskipun bapak bukan pejuang, tapi bapak juga berjuang meski sebatas yang dimampuinya, dengan mendidik anak-anak sekolah dasar sampai masa pensiun. Kini bapak sudah lama meninggal, empat buku “30 tahun Indonesia Merdeka” masih saya simpan dan sesekali dibuka-buka oleh cucu-cucunya. Bendera merah putih yang sudah lusuhpun masih tersimpan dan masih berkibar di “agustusan” tahun ini sekalipun.
Kurang lengkap memang membuka buku 30 tahun Indonesia merdeka. Masih ada mata rantai yang hilang dari penggalan perjalanan bangsa ini. Tapi setidaknya dari situlah saya dan anak-anak saya belajar sejarah. Seharusnya saya mengutip banyak isi dari buku tersebut tapi saya tidak bisa dan hanya bisa mengutip lembar ke-4 dari bi buku tersebut, kata-kata berikut ini :Tidak dibenarkan menyalin, mengutip, atau menyebarluaskan buku ini tanpa persetujuan terlebih dahulu dari Sekretariat Negara Republik Indonesia. Tapi tentunya kalau foto dari keempat buku tersebut, dibenarkan bukan?

Selepas 34 tahun dari 30 tahun Indonesia Merdeka, pastinya masih banyak sekali peristiwa sejarah yang harus dituangkan, dipelajari dan dihayati oleh kita semua. Tidak sekedar untuk dikenang. Bahkan peristiwa besar seperti kerusuhan Mei 1998, tabrakan kereta api di Brebes (27 Desember 2001), tragedi bom Bali (12 Oktober 2002 dan 1 Oktober 2005), bencana tsunami di Aceh (26 Desember 2004), gempa bumi di Yogya (27 Mei 2006), tsunami sepanjang pantai selatan Jawa (17 Juli 2006), tenggelamnya kapal Senopati Nusantara (28 Desember 2006), kecelakaan pesawat Adam Air (1 Januari 2007), kecelakaan Pesawat Garuda di Yogya (7 Maret 2007),tragedi Situ Gintung (27 Maret 2009), teror bom di depan gedung Kedutaan Australia (9 September 2004), tragedi bom di hotel JW Marriot (5 Agustus 2003 dan 17 Juli 2009) dan seterusnya…
Bukan hanya peristiwa mengenaskan, tapi banyak juga peristiwa mengesankan, taruhlah kemenangan Susi Susanti di cabang bulu tangkis pada Olimpiade 1992, yang merupakan emas pertama, juga juara dunia tinju kelas batam Elyas Pical (tahun 1980-an), juga keberhasilan pelajar kita merebut emas di Olimpiade Fisika (8 Juli 2009),
dan lain-lain. (kenapa dan lain-lain? Karena persitiwa mengesankan biasanya lebih banyak bertahan tidak lama dibanding peristiwa mengenaskan).
Enam dasawarsa lebih Indonesia merdeka. Bendera Merah Putih harus selalu berkibar, meskipun bendera usang warisan bapak. Akan aku wariskan juga ke anak-anakku termasuk buku 30 tahun Indonesia Merdeka. Biarlah anak-anak bisa merasakan perang kemerdekaan dari sebuah cerita buku hitam putih, asal tidak menikmati perang dari sebuah berita televisi, berwarna sekalipun! dan kebanggaan bapak juga dirasakan oleh anak-anak dan cucu-cucunya, kebanggaan yang paling sederhana terhadap bangsa ini.
facebook : suryantoros
Hari ini, tanggal 13 Agustus 2009 tepatnya hari Kamis, saya mulai belajar ngeblog di 

